Pages

Sunday, May 20, 2012

Dear wifey - The Day when I want to stop say sorry

Dear Bunda,

Rasa sedih aku besar sekali sejak semalam bisa menatap wajah bunda lagi. Aku benar-benar menyesal kenapa aku bersikap tidak baik seperti itu. Aku merasa takut sudah membuat luka yang besar di hati bunda. Luka yang bunda berusaha menutupinya dengan ekspresi tetap terlihat ceria. Padahal bisa jadi luka yang tercipta itu sangat besar adanya. Aku takut karena tersembunyi ia akan sembuh lama. Aku benci saat bilang menyesal namun sebenarnya selalu mengulang salah. Aku juga benci setiap berjanji namun tak mampu untuk memegangnya. Aku ingin bisa menyembuhkan semua luka bunda dan membangun kepercayaan bunda lagi.

Rumah tangga kita masih amat sangat panjang. Usianya sekarang baru 6 bulan lebih 2 hari. Kelak kita masih akan menghabiskan waktu tak terhingga untuk membangun rumah kita, merawat anak kita, menggapai mimpi-mimpi kita dan merajut cinta tiada akhir. Menjadi dewasa bersama dan tua bersama. Ingat gak dulu bunda pernah menshare lagu Adam Sandler sebelum kita menikah.

I could be the man who grows old with you I wanna grow old with you

Aku tak ingin keinginan-keinginan indah itu terkalahkan oleh sebuah egoisme semu seperti yang telah aku lakukan. Konflik pasti selalu ada. Tapi aku pun sadar diri teramat sangat tak patut untuk terus menjadi sumber konflik. Maafkan aku yang masih belum dewasa. Maafkan aku yang masih jauh dari keshalehan ahklak seorang suami ideal. Tapi aku akan terus belajar sayang. Belajar yang sebenar-benarnya. Seperti forward message yang bunda kirim terakhir kali.

Yang penting bukan bagaimana orang harus baik padaku, melainkan bagaimana aku berusaha baik pada orang lain. Bukan orang lain yang bikin aku bahagia, melainkan sikap diriku sendiri-lah yang menentukan, aku bahagia atau tidak. Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, tidak akan terulang kembali. Namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan, yaitu BELAJAR dari masa lalu untuk hari esok yang lebih baik.

Hidup adalah proses, Hidup adalah belajar. Tanpa ada batas umur Tanpa ada kata tua.

JATUH, berdiri lagi .. KALAH, mencoba lagi .. GAGAL, bangkit lagi ..

Aku ingin bisa sabar dan lembut selalu pada istriku. Meski mungkin ini terdengar omong kosong dengan banyak hal yang sudah aku lakukan. Sebagai pria yang terkadang lemah senjataku cuma satu, adalah doa. Kemana pun bunda pergi aku selalu mendoakan bunda. Aku selalu berdoa untuk dapat membahagiakan bunda. Aku selalu berdoa memohon Allah menjagakan bunda. Aku tak pernah lepas berdoa agar Allah menajamkan pikiran dan meluaskan hati bunda dalam belajar.

I wanna grow old with you honey. But more than that I also want to be mature for you. Many people said, getting older is a certain thing, but getting mature is a choice. Then being immature is also a choice. I won't be the last one.

Sebelum menikah aku selalu merasa semuanya indah. Semuanya mudah. Namun setelah menjalani pernikahan ini, aku tetap merasa ini semua sangat indah, namun penuh tantangan memang. Untuk bersabar saat hati berat untuk bersabar itu penuh tantangan. Untuk menurut saat jiwa memberontak pun penuh tantangan. Untuk bisa tersenyum meski hati terluka (seperti yang bunda sering lakukan :'( ) itu pun tantangan yang teramat sulit. Aku ingin kita bersama bisa mengalahkan semua tantangan-tantangan itu untuk menggapai keindahan pernikahan yang hakiki.

Bunda, aku tak mau terus berjanji. Aku tak mau terus menyesal.

Aku hanya ingin bilang, aku ingin berubah. Aku ingin menjadi lebih baik lagi. Aku ingin lebih shaleh. AKu ingin memelihara akhlak yang baik. Aku ingin lebih sabar. Aku ingin lebih penyayang. Aku ingin menjadi tidak pemarah. Aku tak ingin cemburu yang tak perlu. Aku ingin bisa percaya bunda. Agar bunda juga bisa percaya aku. Aku ingin terus belajar. Aku ingin menjadi pasangan sempurnamu. Aku ingin menjadi mimpi-mimpimu. Aku ingin menjadi orang yang selalu kau rindu. Pria yang selalu ingin kau peluk. Orang yang membuatmu bahagia saat dekat. Orang yang akan kau kangeni ketika jauh.

Aku akan berdoa dan berupaya sebaik mungkin untuk bisa menjadi itu semua. Sehingga kelak mukaku tak tebal lagi saat lagi dan lagi mengatakan maaf untuk sebuah kebodohan yang berulang.

Bunda, kamu adalah separuh jiwaku. Engkau adalah cinta abadiku. Cintaku padamu tak bisa diukur lagi. Aku ingin bisa mencintaimu sebesar dan lebih besar dari bunda mencintai aku. I want to be with you forever.

PS: I love you

No comments:

Post a Comment